Yah… saya terpaksa memberi judul se-ekstrim ini untuk pelaku kegiatan yang sangat saya benci ini. Ini catatan kecil sewaktu melakukan perjalanan cukup panjang lewat darat ke Tanjung Redeb, Berau. Mungkin sebagian orang akan bilang: “Kalo g mau kena asap rokok, kenapa g naik pesawat aja ??!”. Yang jelas-jelas akan terjawab “TIDAK MAMPU”, dengan kondisi keuangan yang tidak sedemikian leluasa, untuk membeli tiket PP seharga total Rp 3.000.000,- (nol nya ada enam lho !!!) untuk 2 orang. Itu juga karena ulah pemain pesawat (sebutan saya untuk airlines) tunggal rute Samarinda-Berau, yang hingga kini belum juga menurunkan harga tiketnya dari kisaran Rp 600.000,- hingga Rp 700.000,- untuk rute yang jaraknya hanya separuh dari rute Balikpapan - Tarakan yang dihargai hanya Rp 300 ribuan.
Singkat cerita, saya saat itu berada dalam bis yang melaju menuju Sangatta, Ibukota Kab. Kutai Timur bersama istri di samping saya yang tertidur-terbangun (kondisi dimana kadang dia tidur dan kadang dia bangun). Waktu saat itu sekitar pukul 19.30 dan sebentar lagi bis akan memasuki Sangatta dimana biasa beristirahat. Saat itu salah seorang penumpang yang duduk dekat saya (hanya berjarak 2 penumpang lain)
mulai membakar rokoknya dan dengan tenang menghisap dan mengepulkan asapnya yang penuh racun dan menyesakkan dada saya (dan pasti juga penumpang lainnya).
Semenit… dua menit… saya masih bisa tahan… tapi memasuki menit ketiga kepala saya mulai pusing.
Saya bukan pemabuk perjalanan yang dapat dengan mudah terganggu dengan liukan jalan trans kalimantan,
tapi saya mudah sekali pusing-pusing dan mual kalau sudah bertemu ASAP ROKOK.
Dilema mulai menghantui saya… mau menegur… kuatir si perokok tersinggung… mau diam dan “menikmati” asap rokok ini… kok rasanya badan gak kuat…
Saya lihat lagi baik-baik postur tubuh si perokok kurang ajar ini… ah, ternyata gak besar2 dan tegap amat… Itungan saya… kalaupun harus berakhir dengan jual beli pukulan… mestinya masih imbang lah… Percuma aja bobot sudah mencapai 76 kg kalo nggak bisa menghunjamkan pukulan telak. Ah.. ternyata saya sudah berpikir terlalu jauh sementara pusing dan mual semakin tak tertahankan. Sampai akhirnya…
“Pak, tolong pak rokoknya dimatikan. Saya nggak tahan ini sudah mau muntah…”
Akhirnya keluar juga permintaan saya dengan sopan. Mau tahu apa reaksi manusia tolol yang saya tegur?
“Iya iya… ini sudah mau habis koq…”, dengan raut muka yang kesal dan suara yang mengeras.
Ada satu obsesi saya, yaitu memuntahkan isi perut saya yang terhambur akibat asap rokok yang dikeluarkan
oleh para perokok, TEPAT DI MUKA SANG PEROKOK yang sudah menghadiahi saya penderitaan ini.
Untuk mengindikasikan ini, saya segera berpura-pura mau muntah dan langsung saya arahkan ke koridor bis. “Hueeeeekkkkkk !!!!” cukup keras… yang pasti orang-orang hingga jarak 4 kursi ke belakang pasti dengar. Saya terus menghadapkan muka saya ke koridor (sekaligus ke muka si tolol perokok) dan memijat2 tengkuk, sekali lagi saya keluarkan suara wasiat saya “HUEEEKKKKK !!!” kali ini agak lebih pelan tapi saya mulai berpura-pura meludah ke arah koridor bis sekaligus ke kaki si tolol perokok.
Reaksi selanjutnya baru membuat saya lega. Si tolol perokok akhirnya bergegas membuang rokoknya
yang masih tersisa separuh kurang sedikit.
Menurut saya, meskipun tidak ada PERDA yang mengatur larangan merokok di tempat umum
(termasuk di angkutan umum seperti bis yang saya naiki) yang dibuat oleh pemerintah setempat,
sebagai manusia saya BERHAK MENDAPATKAN UDARA YANG TIDAK TERCEMAR OLEH ASAP ROKOK.
Tentu saja umat manusia lain boleh menikmati rokok mereka, kapan saja, dimana saja…
asal…. asapnya tidak mengganggu pernapasan orang lain. That’s it !!!
Solusinya ?
Silakan merokok tapi asapnya jangan dikeluarkan !
Telan saja lagi semua asapnya supaya tidak mengganggu orang lain.
Sori kalau itu terlalu ekstrim. Tapi selalu ada ruang dimana anda bisa merokok dengan bebas.
Kalau di mal atau pusat perbelanjaan, biasanya ada tempat khusus bagi perokok.
Kalau di cafe atau rumah makan yang baik, biasanya ada ruang khusus bagi perokok.
Kalau di ruang ber-AC, ya jangan tolol dong merokok di ruang seperti itu.
Karena udaranya pasti berputar-putar disitu aja dan sangat menyiksa orang lain.
Saya menganalogikan merokok sama seperti kumur-kumur.
Jadi untuk anda yang perokok, bayangkan kalau saya setiap saat kumur-kumur
Kemudian saya muntahkan air bekas kumur saya dan mengenai badan anda.
Gimana ??? Sama-sama barang bekas dan mengandung penyakit kan ?
Jadi tolong, dengan sangat saya mohon, berhentilah merokok di tempat umum, karena anda hanya akan menambah penderitaan orang lain
Tags: Humaniora, kebiasaan, menghargai, merokok, rokok, Umum
