Oleh: bsulistioadi | April 12, 2010

Antara Geodesi, Konservasi dan Ekonomi

Ditulis untuk menanggapi berita Kaltim Post 2 April 2010 dan 30 Maret 2010

http://pdf.kaltimpost.net/Main.php?MagID=13&MagNo=3833

http://www.kaltimpost.co.id/index.php?mib=berita.detail&id=56746

Polemik yang tidak berkesudahan terkait tumpang tindihnya kawasan konservasi dan pencadangan kawasan pertambangan, seperti yang terjadi di Hutan Pendidikan dan Penelitian Bukit Soeharto, Kutai Kartanegara sangat terkait dengan aplikasi keilmuan geodesi dan geomatika sekaligus prinsip kelestarian lingkungan di lapangan.

Sepanjang pengetahuan penulis, permasalahan ini dimulai dari perbedaan yang signifikan antara peta yang menjadi lampiran SK Penetapan Kawasan Hutan Wisata Bukit Soeharto (SK Menhut 270 Tahun 1991), yang meliputi Hutan Pendidikan dan Penelitian UNMUL, Hutan Pendidikan dan Penelitian BLK, Hutan Wisata Tanah Merah Samboja dan Hutan Penelitian Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan DEPHUT dan kawasan Taman Hutan Raya Bukit Soeharto sendiri) dengan penggambaran hasil pengukuran tatabatas lapangan sesuai buku ukur lapangan yang menjadi dasar keluarnya SK ini sendiri. Hasil pengukuran lapangan ini juga yang kemudian menjadi dasar penggambaran peta yang menjadi lampiran SK Menhut 160 Tahun 2004 yang menetapkan salah satu kawasan di Hutan Wisata Bukit Soeharto seluas 20.271 ha sebagai Kawasan Hutan dengan Tujuan Khusus sebagai Hutan Pendidikan dan Penelitian Universitas Mulawarman.

Perbedaan ini cukup signifikan dari segi bentuk dan luasan yang kemudian menjadi sangat vital karena SK Menhut 270 Tahun 1991 itulah yang kemudian dijadikan acuan untuk menetapkan SK Menhut 79 Tahun 2001 mengenai Penunjukan Kawasan Hutan dan Perairan bagi wilayah Propinsi Kalimantan Timur. SK Menhut 79/2001 ini juga lah yang menjadi dasar penetapan kawasan budidaya non kehutanan di dalam kawasan Taman Hutan Raya Bukit Soeharto yang menjadi bagian dari Hutan Penelitian dan Pendidikan Universitas Mulawarman sesuai SK Menhut 160 Tahun 2004, namun TIDAK menjadi bagian dari Tahura BS secara keseluruhan pada hampir semua peta dan SK lain.

Tinjauan teknis pengukuran dan pemetaan

Sekarang, mari kita meninjau permasalahan ini dari sisi teknis dan keilmuan, khususnya bidang ilmu geodesi, yang seringkali dipraktekkan menjadi kegiatan pengukuran dan pemetaan. Seperti diketahui bersama, pengukuran dan pemetaan kawasan menjadi bagian yang teramat penting dalam perencanaan, pengkajian, penunjukan dan penetapan fungsi suatu kawasan. Perkembangan teknologi yang sedemikian pesat dalam pengukuran dan pemetaan juga membawa kemudahan dan peningkatan akurasi dan presisi. Jika dahulu surveyor lebih mengandalkan metode-metode pengukuran terestris dengan alat-alat optik dan magnetik seperti terintegrasi dalam teodolit, misalnya, saat ini hampir setiap orang bisa mengetahui posisinya secara global melalui layanan penentu posisi global yang dikenal dengan sebutan GPS (Global Positioning System). Sesungguhnya tidak ada yang berubah dari perkembangan teknologi pengukuran dan pemetaan hingga saat ini, karena semua upaya yang dilakukan kebanyakan surveyor adalah memproyeksikan sebagian permukaan bumi ke dalam bidang datar (yang paling sering kita temukan dalam bentuk lembar peta yang dicetak). Yang menjadi sangat berbeda adalah bahwa sebelum adanya inovasi sistem penentu posisi global (GPS), hasil-hasil pengukuran lapangan dikaitkan kepada obyek-obyek permanen di lapangan yang memiliki referensi koordinat tertentu, sementara dengan adanya kemudahan menentukan posisi (koordinat bumi) secara global, setiap titik pengukuran saat ini dapat secara langsung dipetakan dengan referensi koordinat global pula. Lalu, apakah dengan GPS semua permasalahan pengukuran bisa diselesaikan? Tentunya tidak.

Dalam kaidah geodesi dan pemetaan, dikenal istilah “datum”. Apa pula ini datum? Bumi kita, secara sangat sederhana dapat dianggap sebagai benda berbentuk seperti bola. Namun pada kenyataannya, bentuk bumi tidaklah demikian. Rotasi bumi yang sedemikian cepat, gaya sentrifugal dan gravitasi bumi dan obyek lain di ruang angkasa menyebabkan radius bumi di bagian kutub utara dan selatan lebih pendek daripada radius bumi di bagian katulistiwa. Efek ini menyebabkan bumi secara umum dapat dianggap berbentuk seperti “bola gepeng” atau ellipsoid yang mulus permukaannya. Nah, model ellipsoid atau “bola gepeng” inilah yang dijadikan dasar untuk memetakan bumi secara global. Model ellipsoid yang mendekati bentuk bola, seringkali disebut sebagai “spheroid”. Para ilmuwan geodesi dari waktu ke waktu selalu berusaha mencari model yang paling tepat untuk bumi kita, sehingga diharapkan dapat meningkatkan tingkat kebenaran penggambaran sebagian permukaan bumi, yang lebih dikenal sebagai “pemetaan”. Disinilah diperkenalkan istilah datum horizontal, yaitu acuan permukaan bumi yang digunakan sebagai dasar penempatan setiap lokasi di muka bumi. Rumitnya, tidak semua tempat di bumi dapat dipetakan dengan datum horizontal yang sama. Ada tempat tertentu yang sesuai ( = terpetakan dengan akurat) dengan datum horizontal “A”, ada tempat lain yang tidak cocok dengan datum horizontal “A” namun lebih cocok dengan datum horizontal “B”. Perbedaan datum ini juga dipengaruhi oleh pihak mana yang membuat peta, karena setiap pembuat peta memiliki kepentingan yang berbeda-beda. Di sisi lain, sebagai acuan ketinggian tempat/elevasi, ditentukan suatu tempat dimana dianggap elevasi di tempat tersebut adalah 0 secara absolut. Acuan ini dinamakan datum vertikal dan selanjutnya menjadi dasar bagi pengukuran ketinggian permukaan bumi kawasan di sekitarnya. Selanjutnya, untuk memudahkan proses pemetaan, kedua datum ini (datum horizontal dan datum vertikal) seringkali disatukan sebagai kombinasi parameter yang disebut sebagai “datum” saja.

Dengan kemudahan teknologi saat ini, khususnya perkembangan Sistem Informasi Geografi, komputer dapat dengan mudah memadukan peta dari banyak sumber yang berbeda-beda. Namun tetap perlu diingat, kesalahan dalam menafsirkan atau menginterpretasikan datum yang dipergunakan dapat menimbulkan kesalahan posisi yang bervariasi antara kisaran meter hingga ratusan meter. Contoh paling nyata adalah perbedaan proyeksi peta dan datum yang digunakan oleh berbagai instansi di Indonesia, seperti berikut:

  • Peta Jawatan Topografi TNI-AD (sekarang Direktorat Topografi TNI-AD) yang berskala 50.000 menggunakan Spheroid Bessel
  • Peta Jawatan Topografi TNI-AD (sekarang Direktorat Topografi TNI-AD) yang berskala 250.000 menggunakan Spheroid GRS1967
  • Peta Rupabumi Indonesia (RBI) yang dikeluarkan dalam bentuk cetak oleh Pusat Pemetaan Dasar dan Tataruang (PDRTR) Bakosurtanal yang berskala 50.000 menggunakan Datum Indonesia 1974
  • Sementara itu, datum standar yang digunakan oleh perangkat penentu posisi global (GPS Receiver) adalah WGS 1984.

Apabila pelaksana pemetaan tidak melakukan transformasi koordinat saat memadukan Peta Dittop TNI-AD dengan Peta RBI Bakosurtanal berskala 1:50.000 misalnya, dan ditambah lagi dengan masukan data dari hasil pengukuran dengan GPS, maka dapat terjadi pergeseran koordinat yang signifikan, terutama bila terdapat perbedaan model “ellipsoid/spheroid” yang mendasari penggunaan masing-masing datum.

Sebenarnya ada lagi pendekatan yang lebih akurat untuk memetakan permukaan bumi karena sebenarnya permukaan bumi tidaklah semulus model ellipsoid yang dikenalkan oleh para ahli geodesi. Bentuk bumi yang sebenarnya sangat tidak teratur permukaannya. Bayangkan perbedaan tinggi antara Gunung Merapi dengan dasar Laut Jawa, atau Danau Toba di Sumatera Utara dengan dasar Laut Indonesia, atau lebih ekstrim lagi Pegunungan Himalaya dengan Laut Andaman di selatan India. Nah, untuk mengakomodir perbedaan elevasi yang ekstrim ini, kemudian dikenalkan model matematis “geoid” yang diperoleh dengan membuat model ketinggian berdasarkan potensi gravitasi (“geopotential”) di setiap tempat di muka bumi. Namun karena pertimbangan kepraktisan, model ini belum digunakan secara luas sebagai dasar pemetaan wilayah.

Penggunaan GPS dan titik kontrol geodetik

Seperti telah disinggung di awal tulisan ini, seiring berkembangnya teknologi, kini hampir setiap orang yang memiliki penerima signal GPS, dapat mengetahui posisinya relatif terhadap sistem koordinat global, setiap saat dan tepat waktu (real-time). Hal ini dimungkinkan dengan dibukanya layanan penentuan posisi dengan akurasi yang lebih baik, melalui satelit GPS milik Departemen Pertahanan Amerika Serikat untuk penggunaan oleh pihak sipil sejak tahun 2000. Akurasi yang lebih baik yang dimaksud disini adalah tingkat kesalahan yang bisa mencapai “hanya” 3 meter dari posisi sesungguhnya. Sebelumnya, pihak sipil juga dapat memanfaatkan layanan ini, namun kebijakan “Selective Availability (SA)” dari Departemen Pertahanan Amerika Serikat menyebabkan tingkat kesalahan maksimal yang sepuluh kali lipat dari sekarang (ketelitian maksimal 30 m). Di samping itu, SA juga menyebabkan seringkali teracaknya sinyal GPS yang diterima pihak sipil, sehingga menyebabkan waktu pemrosesan data yang lebih lama.

Lebih jauh, angka kisaran akurasi atau tingkat kesalahan yang disebutkan diatas berlaku hanya untuk jenis penerima signal satelit GPS kelas navigasi. Navigasi disini dimaksudkan untuk keperluan umum seperti penentuan arah kendaraan/perjalanan, atau penentuan posisi untuk kepentingan yang sifatnya umum, sementara untuk keperluan lain yang membutuhkan akurasi lebih tinggi (kesalahan lebih kecil) digunakan perangkat GPS kelas pemetaan (mapping) maupun perangkat GPS kelas survey/geodetik. Dengan banyak tambahan kemampuan, penerima signal satelit GPS kelas survey/geodetik mampu memproses dan memberikan koordinat global dengan akurasi hingga <10 mm. Hal ini dapat dicapai dengan meminimalisir kesalahan-kesalahan yang terjadi saat proses penentuan posisi terjadi, diantaranya kesalahan penentuan waktu dari penerima signal GPS (receiver clock error), kesalahan akibat perilaku atmosfer (pada lapisan troposfer dan ionosfer, yang dapat mengakibatkan penurunan akurasi secara signifikan), kesalahan akibat posisi penerima signal sehingga signal yang diterima terduplikasi (multi-path error), maupun kesalahan yang disebabkan perubahan pada orbit satelit GPS sendiri.

Kesalahan-kesalahan pada proses pengukuran posisi dengan GPS kelas survey, umumnya dapat diminimalkan dengan berbagai metode untuk sumber kesalahan yang berbeda pula. Salah satu metode untuk meminimalkan kesalahan yang paling umum adalah metode differensial. Pada metode “single difference”, minimal 2 penerima signal (GPS Receiver) menerima signal secara simultan dan terus menerus dari satu satelit GPS yang sama, dimana kemudian dapat dihitung kesalahan penanda waktu dan posisi orbit satelit GPS. Pada metode “double difference”, minimal dua penerima signal (GPS Receiver) menerima signal secara simultan dan terus menerus dari dua satelit GPS yang berbeda, metode ini kemudian dapat meminimalkan kesalahan pada penanda waktu di penerima signal GPS (GPS Receiver), kesalahan akibat perilaku atmosfer, dan pencampuran signal dari masing-masing saluran penyampai signal GPS.

Kesalahan (error) pada hasil pengukuran dengan GPS kelas survey/geodetik, juga dapat diminimalkan lebih jauh dengan menggunakan titik kontrol yang telah diukur secara seksama posisinya secara global. Di Indonesia, titik kontrol ini dibedakan menurut tingkat kerapatan dan akurasinya. Titik kontrol orde-0 adalah titik kontrol yang paling akurat dan menjadi dasar bagi penentuan titik kontrol orde lainnya. Selanjutnya, titik kontrol orde-1, 2 dan 3 merupakan jaringan perapatan yang lebih intensif, namun memiliki akurasi yang lebih rendah daripada titik kontrol orde-0. Badan Koordinasi Survey dan Pemetaan Nasional (BAKOSURTANAL) bertanggung jawab untuk membangun dan memelihara titik kontrol orde-0 dan 1, sementara Badan Pertanahan Nasional (BPN) bertanggung jawab untuk titik kontrol orde-2 dan 3. Untuk wilayah Kalimantan Timur, titik kontrol orde-0 ini belum begitu banyak, namun di setiap Bandar Udara di kota besar terdapat 1 titik kontrol.

Mengenai keharusan menggunakan total station untuk pengukuran batas wilayah pertambangan, dapat ditambahkan disini bahwa total station adalah suatu alat digital yang mengkombinasikan penentu jarak dan sudut dengan teknologi terakhir, yang bisa dianggap sebagai penerus dari perangkat teodolit. Penentuan posisi titik yang diobservasi kemudian dihitung dengan prinsip trigonometri untuk mendapatkan posisi aktual dalam sistem koordinat referensi yang telah ditentukan (misalnya koordinat kartesian X, Y, Z). Namun demikian, total station yang tidak dilengkapi dengan perangkat penerima signal GPS dengan kelas survey/geodetik, tidak akan bisa melebihi akurasi hasil penentuan koordinat global suatu titik dengan GPS kelas survey/geodetik. Lain halnya bila perangkat total station yang dimaksud kemudian dilengkapi atau terintegrasikan dengan penerima signal GPS, maka proses penentuan koordinatnya akan sama dengan penjelasan mengenai GPS diatas, ditambah dengan kemampuan untuk mengukur jarak dan sudut obyek lain dari titik awal, menjadikan total station yang dilengkapi GPS geodetik sebagai alat survey yang sangat lengkap.

Penataan batas Taman Hutan Raya dan Hutan Penelitian dan Pendidikan Bukit Soeharto

Melihat kembali perjalanan panjang penataan kawasan Tahura BS, pengukuran dan pemetaan awal kawasan ini di lapangan dimulai sekitar tahun 1991, yang kemudian melahirkan peta tatabatas kawasan Hutan Wisata Bukit Soeharto. Pada masa ini, GPS belum dapat digunakan oleh masyarakat sipil, hanya militer amerika saja yang menggunakan layanan dari 24 satelit GPS yang mereka kembangkan. Yang terjadi kemudian adalah, hasil-hasil pengukuran lapangan/terestris kemudian di-referensi-kan ke obyek-obyek permanen yang ada maupun dibuat di lapangan. Pengukuran dan penataan batas sebagian Tahura Bukit Soeharto yang berstatus sebagai Kawasan Hutan dengan Tujuan Khusus sebagai Hutan Pendidikan dan Penelitian Universitas Mulawarman pada tahun 1999 menyempurnakan proses pengukuran sebelumnya dengan memberikan referensi koordinat global berdasarkan pengukuran GPS. Penelusuran kembali (rekonstruksi) tata batas Hutan Pendidikan dan Penelitian Bukit Soeharto yang dilakukan PPHT Unmul pada tahun 2006-2007 pun hanya terbatas pada upaya menemukan kembali patok-patok pengukuran yang dilakukan terdahulu, kemudian mereferensikan kembali kepada koordinat global menggunakan GPS navigasi dan menggambarkannya kembali pada peta dasar. Mengingat kembali angka akurasi yang disebutkan sebelumnya, kesalahan maksimal pada proses rekonstruksi ini berkisar pada 30 meter. Namun demikian, PPHT UNMUL kemudian juga bekerjasama dengan BAKOSURTANAL untuk mendirikan patok-patok permanen sebagai referensi koordinat yang diukur menggunakan GPS kelas survey/geodetik, dan ditingkatkan akurasinya berdasarkan titik kontrol orde-0 di Muara Jawa dan Samarinda, posisi orbit satelit ber-presisi tinggi, dan metode pengolahan data paska survey yang dijelaskan sebelumnya.

Proses terus berlanjut dan atas permintaan yang mendesak dari berbagai pihak, kemudian Departemen Kehutanan melalui Balai Pemantapan Kawasan Hutan Wilayah IV Samarinda, melakukan yang disebut sebagai “re-posisi” tata batas kawasan Taman Hutan Raya Bukit Soeharto. Metode pengukuran yang dilakukan pun telah menggunakan teknologi GPS yang terbaik, sehingga diyakini peta yang menjadi acuan terkini sekaligus dasar SK Menhut No 577 Tahun 2009 mengenai batas kawasan Tahura Bukit Soeharto telah memiliki akurasi yang terbaik. Akurasi yang terbaik yang dimaksud disini adalah kualitas pengukuran/survey geodetik, dengan kesalahan maksimal yang bisa terjadi <10 mm untuk setiap titik yang diukur koordinat globalnya. Dari peta hasil re-posisi tata batas Tahura Bukit Soeharto yang menjadi lampiran SK Menhut No 577 Tahun 2009 juga dapat dilihat masih terdapat perbedaan garis batas dengan hasil rekonstruksi tata batas yang dilakukan oleh PPHT UNMUL. Namun demikian, secara umum bentuk wilayah Hutan Pendidikan dan Penelitian Bukit Soeharto yang dikelola Universitas Mulawarman telah sangat menyerupai hasil rekonstruksi yang dilakukan PPHT UNMUL dan sangat jauh berbeda dengan peta lampiran SK Menhut 270 Tahun 1991 maupun lampiran SK Menhut 79 Tahun 2001.

Pelajaran yang dapat dipetik dari kasus ini, khususnya bagi pihak-pihak yang sangat tergantung dengan batas-batas wilayah adalah agar selalu waspada dan siap terhadap berbagai kemungkinan dan kesalahan yang terjadi dari proses pengukuran dan pemetaan. Memang benar teknologi saat ini, terutama dengan perkembangan sistem informasi geografi sudah sangat memudahkan kita dalam memproses seluruh informasi spasial dan menyajikannya, namun prinsip kehati-hatian sangat diperlukan, terutama bila menyangkut kelestarian lingkungan dan konservasi.

Pendekatan pencegahan (Precautionary Approach)

Bila kita kembali pada bagian awal tulisan ini, dimana terjadi tumpang tindih antara ijin usaha pertambangan (dahulu kuasa pertambangan/KP) dengan kawasan konservasi, dalam hal ini Hutan Pendidikan dan Penelitian Universitas Mulawarman yang merupakan bagian dari Taman Hutan Raya Bukit Soeharto, dapat dilihat disini keengganan pemerintah untuk mengutamakan kepentingan konservasi sumberdaya alam hayati. Perbedaan yang terjadi pada berbagai peta dari berbagai sumber, baik sumber legal maupun yang belum legal, seharusnya dijadikan rambu untuk menghindarkan kawasan konservasi dari ekstraksi batubara yang berdampak sangat besar terhadap lingkungan. Sangat disayangkan, kemudian perbedaan ini tidak dijadikan pertimbangan bagi Pemerintah Daerah maupun Departemen Energi dan Sumberdaya Mineral selaku otoritas yang memberikan perijinan kegiatan ekstraksi sumberdaya alam mineral. Dalam prinsip pembangunan yang berwawasan lingkungan, pendekatan pencegahan (precautionary approach) adalah pendekatan yang sangat disarankan untuk ditempuh bila ada ketidakpastian mengenai status kawasan dan dampak yang dapat ditimbulkan sebagai akibat upaya-upaya pembangunan, khususnya bila terkait dengan kepentingan pelestarian lingkungan dan konservasi sumberdaya alam hayati.

Apa pula itu “precautionary approach” (pendekatan pencegahan, dalam Bahasa Indonesia)? Secara literal, hal ini dapat dipahami sebagai komitmen bahwa pemerintah harus menghindarkan kawasan-kawasan yang seharusnya dilindungi dari ancaman-ancaman kerusakan permanen terhadap lingkungan, meskipun belum ada kepastian secara ilmiah maupun status dari kawasan dimaksud (Sumber: Website CBD http://www.cbd.int/biosafety/faq/?area=protocol&faq=10)

Dengan menandatangani piagam pelestarian lingkungan di Rio de Janeiro 8 tahun lalu, pemerintah sebenarnya secara moral dan implementatif telah menetapkan komitmennya dalam pelestarian lingkungan dan konservasi dan semestinya secara konsisten terus berupaya menghindarkan kerusakan lingkungan dan mengutamakan konservasi sumberdaya alam hayati. Tumpang tindih kawasan Taman Hutan Raya Bukit Soeharto khususnya Hutan Pendidikan dan Penelitian Universitas Mulawarman adalah salah satu contoh yang paling tepat dimana pemerintah telah mengabaikan prinsip yang telah disepakati di pertemuan lingkungan sedunia (Earth Summit) di Brazil tahun 1992 itu.

Ilustrasi Pendekatan Pencegahan

Ilustrasi Pendekatan Pencegahan

Ilustrasi dari keadaan saat ini dan kondisi yang seharusnya, sesuai pendekatan pencegahan (precautionary approach).

Garis tegas adalah batas yang diakui secara formal (sesuai SK Menteri), garis putus-putus pendek di tengah adalah “indikasi” batas yang sebenarnya.

Yang terjadi sekarang adalah, Ijin Usaha Pertambangan (IUP) diletakkan begitu dekat bahkan sebagian masuk ke kawasan konservasi (KK). Idealnya, dari indikasi garis batas yang sebenarnya, pemerintah seharusnya memberikan jarak yang cukup antara kegiatan ekstraktif yang berlangsung di kawasan budidaya non kehutanan (KBNK) dengan kawasan konservasi, sehingga akan terdapat wilayah penyangga bagi kepentingan konservasi sumberdaya alam hayati.

Mengacu pada perbedaan peta seperti dideskripsikan secara ilustratif di atas, seharusnya menjadi jelas bahwa ada suatu kawasan yang memiliki kepentingan yang signifikan terhadap upaya konservasi (Tahura yang meliputi Hutan Pendidikan dan Penelitian Bukit Soeharto), meskipun sebagian kawasan tersebut belum ditetapkan secara formal oleh hukum yang berlaku, terkait dengan adanya perbedaan peta yang menjadi acuan penetapan/penunjukannya. Langkah yang seharusnya diambil kemudian adalah menghindarkan kawasan konservasi yang “belum pasti” tersebut dari segala kegiatan ekstraksi sumberdaya alam, karena dalam kasus ini, pertambangan batubara yang berlangsung di sekitar kawasan ini jelas akan menimbulkan dampak lingkungan yang tidak sedikit.

Muara dari keseluruhan masalah ini adalah masalah ekonomi. Pemerintah daerah ingin memperoleh pendapatan domestik yang lebih besar untuk membiayai pembangunan, sementara masyarakat sendiri, sebagian besar tidak dapat menikmati hasil pembangunan yang dibiayai dari perusakan lingkungan tersebut.

Oleh: bsulistioadi | Maret 31, 2010

Pagi hari, saatnya bersyukur dan berdoa

Renungan hari ini (30 Maret 2010) dari Rm I Sumarya SJ…
Sungguh mengingatkanku pada kerapuhan ku sendiri…
———————————–

Masih ingat dengan jelas, saat tinggal di rumah yang sangat dekat dengan mesjid, aku selalu menggerutu, marah-marah dan mengeluh saat adzan subuh tiba…karena seringkali membangunkanku dari tidur yang amat nikmat (coba rasakan sendiri, tidur paling nikmat adalah antara jam 4-8 pagi). Hari ini aku diingatkan oleh Rm Sumarya (www.ekaristi.org) untuk bangkit, bersyukur dan berdoa bilamana kumandang adzan itu tiba…
———————————–
Renungan ini dikutip dari sumber aslinya di http://www.ekaristi.org/
http://www.ekaristi.org/artikel/sumarya.php?subaction=showfull&id=1269893541&archive=&start_from=&ucat=16&

Tuhan mengapa aku tidak dapat mengikuti Engkau sekarang?
(Yes49:1-6 ; Yoh13:21-3336-38)

“Simon Petrus berkata kepada Yesus: “Tuhan, ke manakah Engkau pergi?” Jawab Yesus: “Ke tempat Aku pergi, engkau tidak dapat mengikuti Aku sekarang, tetapi kelak engkau akan mengikuti Aku.” Kata Petrus kepada-Nya: “Tuhan, mengapa aku tidak dapat mengikuti Engkau sekarang? Aku akan memberikan nyawaku bagi-Mu!” Jawab Yesus: “Nyawamu akan kauberikan bagi-Ku? Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali.”(Yoh13:36-38), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

Pada hari ini ditampilkan dua rasul: Yudas Iskariot dan Petrus yang akan mengkhianati Yesus. Meskipun mereka telah kurang lebih tiga tahun dibina oleh Yesus, hidup bersama dengan Yesus, ternyata dapat jatuh juga alias mengingkari Yesus. Mungkinkah kita juga berkhianat seperti mereka? Mungkin kita tidak seperti Yudas Iskariot, tetapi seperti Petrus, maka marilah kita mawas diri. Hendaknya kita tidak sombong seperti Petrus, yang berkata “Aku akan memberikan nyawaku bagiMu”. Memberikan nyawa bagi Yesus berarti siap sedia untuk mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan dalam situasi dan kondisi apapun, kapanpun dan dimanapun. Marilah kita renungkan sabda Yesus kepada Petrus: ”Sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali”. Sebelum ayam berkokok berarti pagi-pagi buta, dimana kebanyakan orang masih tidur nyenyak. Di daerah kita, di Indonesia, pagi-pagi buta, sebelum ayam berkokok, kita dengar suara ‘adzan’ dari masjid, surau atau langgar, ajakan untuk berdoa dan memuliakan Tuhan.

Di antara kita kiranya ada yang merasa terganggu dan terbangun dari tidur serta kemudian mengeluh, menggerutu atau marah-marah. Jika kita berbuat demikian, hemat saya kita sama seperti Petrus. Maka dengan ini kami mengajak anda sekalian untuk menyadari dan menghayati kelemahan dan kerapuhan masing-masing. Secara khusus kami mengingatkan dan mengajak kita semua, jika di pagi hari mendengar suara ‘adzan’, marilah dengan rendah hati kita menyatukan diri dengan saudara-saudari kita, umat Islam, berdoa pagi bersama-sama. Lebih baik pagi hari itu bersyukur dan berdoa daripada mengeluh, marah-marah atau menggerutu.

Oleh: bsulistioadi | Februari 8, 2010

Earth Observing 1 – Advanced Land Imager

Saat menjelajah website USGS untuk mencari liputan citra satelit terbaru untuk wilayah sekitar Kota Samarinda, saya menemukan arsip citra satelit EO-ALI. Karena penasaran dengan fitur citra ini, saya lanjutkan pencarian ke web USGS untuk memastikan fitur dan karakteristik citra EO-ALI ini.

Ternyata, citra EO-ALI ini memiliki karakteristik yang sangat serupa dengan Landsat 7 dengan sensor ETM+ nya. Bahkan EO-ALI juga dilengkapi dengan beberapa kanal/band tambahan dengan kisaran panjang gelombang (wavelength) yang spesifik.

Dari segi resolusi lapangan (ground resolution), citra satelit EO-ALI memberikan resolusi yang persis sama dengan citra Landsat 7 ETM+, yaitu 30 m. Resolusi lebih tinggi bahkan tersedia pada kanal/band Pankromatik, yakni 10 m (dibandingkan dengan citra pankromatik dari satelit Landsat 7 yang 15 m).

Pada tulisan singkat ini, saya lampirkan hasil pembuatan komposit warna semu-alami (pseudo-natural color composite – favorit saya) yang setara dengan kombinasi RGB 543 pada citra Landsat. Bisa dilihat pada contoh ini, hasil liputan sangat baik dari segi kualitas radiometrik maupun geometriknya. Lokasi pengambilan citra ini ada di Muara Sungai Mahakam (Delta Mahakam), pada bulan April 2004.

Seperti kecenderungan yang terjadi pada data-data satelit peliput lahan yang lain (ASTER, Landsat 5 & 7, MODIS), data EO-ALI inipun tersedia secara GRATIS dan dapat diunduh langsung dari portal USGS untuk data observasi bumi

http://glovis.usgs.gov/

Sayangnya, liputan citra ini baru sedikit. Untuk wilayah Samarinda dan sekitarnya (yang ingin saya cari saat ini), hanya ada 2 liputan dan yang terbaru pun diliput per tahun 2004 lalu. Bagaimanapun, keberadaan citra hasil perekaman sensor EO-ALI pada wahana satelit EO-1 ini, memberikan alternatif yang bahkan lebih baik daripada citra dari sensor ETM+ pada wahana satelit Landsat 7 yang mengalami “striping” sejak Mei 2003 lalu.

Oleh: bsulistioadi | Januari 23, 2010

Teori dan Operasional GPS

Di tulisan ini saya ingin membagi materi kuliah  mengenai teori dan dasar pengoperasian GPS. Mata kuliah ini adalah salah satu yang diwajibkan di The Ohio State University, khususnya major Geodetic Science.

Silakan kunjungi link sbb:
http://geodesy.eng.ohio-state.edu/course/gs609/

Nanti, materi kuliah ini akan diringkas dalam Bahasa Indonesia (kalau sempat…)

Oleh: bsulistioadi | Februari 27, 2009

Samarinda: Kapan mau berubah ?!?!

Samarinda ini ada pemerintahnya ya ?
koq saya merasa kota ini SAMA SEKALI TIDAK DIATUR dengan baik, faktanya:
1. tambang dimana-mana
2. banjir makin sering
3. jalan penuh debu dan pasir kalau cuaca panas
4. jalan kalau hujan jadi kubangan lumpur semua
5. pembangunan kota terus menumpuk di pusat kota
6. truk pasir, tanah dan beton cor menumpahkan isinya ke jalan setiap saat
7. warganya buang sampah sembarangan
8. jalanan penuh dengan penjual buah

Masih mau menyebut samarinda sebagai kota ? lengkap dengan pemerintahnya ? hmmmm… kayaknya koq nggak layak sama sekali ya…

Posting ini masih akan diperbaiki, sesuai mood saya… hehehe…

Oleh: bsulistioadi | Agustus 22, 2008

Bahasa Indonesia yang Makin Teraniaya

Sebagai manusia yang terlahir dari orangtua yang asli Indonesia (meskipun almarhum Ibunda saya sempat bilang dalam darah saya mengalir keturunan Cina/Tionghoa dan Arab selain Jawa dari kedua orangtua saya), saya mau tidak mau suka tidak suka harus menggunakan Bahasa Indonesia sebagai pilihan utama untuk berkomunikasi dengan sesama orang Indonesia. Tidak hanya itu, saat saya berbicara dengan orang asing yang sedang berusaha belajar Bahasa Indonesia pun, saya dengan senang hati menggunakan bahasa yang menjadi pemersatu bangsa kita ini. Bayangkan, penduduk Kota Sabang, Propinsi Aceh di ujung barat Indonesia dapat berkomunikasi dengan baik dengan saudara kita dari Merauke, yang letaknya luar biasa jauhnya di ujung timur Indonesia, menggunakan bahasa pemersatu ini. LUAR BIASA !!!
Tentu, kita patut bersyukur pada pendiri bangsa kita ini karena atas kegigihan merekalah kita bisa menikmati kemerdekaan dari penjajahan, sekaligus persatuan dengan saudara-saudara kita yang sangat-sangat beragam budaya, bahasa dan sifat-sifatnya ini.
Sayang sekali, rasa syukur saya ini sedikit banyak selalu terganggu dengan penggunaan Bahasa Indonesia yang semakin tidak teratur, yang dilakukan oleh bangsa kita sendiri. Seharusnya, sebagai penutur asli dari Bahasa Indonesia, masyarakat Indonesia berusaha memperkaya khazanah bahasa ini, dan setidaknya mempergunakannya sesuai dengan kaidah yang benar. Saya sangat kuatir, identitas bangsa kita yang satu ini akan semakin terdegradasi hingga masyarakat sendiri akhirnya tidak mengerti bagaimana seharusnya berbahasa Indonesia yang baik dan benar, dan akhirnya Negara Malaysia yang “sangat berbudaya dan terhormat itu” mengklaim bahwa akar dari Bahasa Indonesia yang kita gunakan sekarang adalah Bahasa Melayu, sehingga Bahasa Indonesia pun HILANG dari catatan dunia.

Berikut ini beberapa contoh yang sering sekali saya temui dan sudah pada taraf menimbulkan kekesalan dan meningkatkan kekuatiran saya:
1. “Bahasa”
Saya bekerja dengan expatriat dari bangsa-bangsa lain di dunia sejak 1999. Sejak itu pula saya harus sering-sering membuat laporan dalam 2 versi bahasa. Dalam percakapan sehari-hari, saya selalu menyebut versi laporan bahasa inggris sebagai “English Version” sementara versi laporan bahasa indonesia sebagai “Indonesian Version”. Mengapa ? karena sepengetahuan saya, “Bahasa Indonesia” akan diartikan sebagai “Indonesian Language” oleh kawan-kawan penutur Bahasa Inggris asli (native speaker). Tapi apa kenyataannya ?
Bahkan ORANG INDONESIA sekalipun, dengan bangganya menyebut laporan berbahasa Indonesia tersebut dengan “Versi BAHASA”. Sebuah penggunaan kata/penyingkatan yang salah kaprah, karena kalau dipadankan dengan versi bahasa inggrisnya, kita harus menyebut “Language Version”…
Setelah melakukan sedikit penyelidikan akan hal ini, (setidaknya menurut saya) ternyata kawan-kawan expatriat lah yang awalnya menyebut dan menggunakan istilah “Versi Bahasa” untuk merujuk pada versi laporan berbahasa Indonesia, agar lebih singkat dan mudah dalam penyebutannya. Yang mengerikan, bangsa kita ternyata merasa lebih bangga bila bisa mengikuti istilah yang diberikan oleh para expatriat ini.
Saya ingin ingatkan bahwa BAHASA INDONESIA TIDAK PERNAH disebut atau dinamai SEBAGAI BAHASA (SAJA). Jadi sebaiknya kita menyebut versi (laporan atau dokumen) dalam bahasa Indonesia sebagai “Indonesian Version” daripada “Versi Bahasa” tadi. Tapi silakan saja kalau tetap mau mengikuti salah kaprah yang (menurut saya) tolol ini…

2. “Secara”
Ini kecenderungan baru dalam berbahasa yang belum cukup lama berkembang. Kata “secara” sekarang dipadankan dengan kata bahasa inggris “since atau in fact atau due to”. Padahal kata “secara” dalam kamus besar bahasa Indonesia lebih cenderung mengacu kepada “bagaimana sesuatu dilakukan”. Contoh penggunaannya:
“Saya lebih suka ke kantor naik mobil, secara kan tingkat polusi di Jakarta sudah sedemikian memprihatinkan”, kata salah seorang kawan dengan bangganya. Apa sih salahnya menggunakan kata “karena” ?

3. “Eksisting”
Dalam laporan-laporan pekerjaan teknis, saya sering sekali mendapati penggunaan kata “eksisting” yang sebenarnya sangat memungkinkan untuk digantikan dengan kata “saat ini”, dan itu sudah benar dan baku. Saya kuatir, bangsa ini semakin bangga bertutur dengan “setengah Bahasa Inggris” daripada mengembangkan dan menggunakan kata-kata asli maupun serapan Bahasa Indonesia. Contoh penggunaannya:
“Kondisi eksisting penggunaan lahan di kawasan zzz…”
Apa coba susahnya kita mengatakan:
“Kondisi penggunaan lahan saat ini (atau aktual) di kawasan zzz…”
???
Intinya buat saya, kosa kata Bahasa Indonesia harus digunakan secara maksimal saat kita bertutur dengan Bahasa Indonesia, sementara kosa kata Bahasa Inggris harus digunakan secara maksimal saat kita bertutur dengan Bahasa Inggris pula. Buat saya pribadi, adalah BODOH untuk mencampuradukkan istilah asing dengan kata-kata Bahasa Indonesia kesayangan saya, sementara kata-kata tersebut sebenarnya memiliki padanan yang tepat.
Dugaan saya, masyarakat kita sangat terobsesi dengan penutur Bahasa Indonesia yang bahasa ibunya bukan Bahasa Indonesia (lihatlah Cinta Laura atau artis-artis setengah Indonesia lain) yang kesulitan berbicara Bahasa Indonesia sehingga terdengar “bule banget”…

Ayo dong, tunjukkan identitas bangsa kita !
MERDEKA !!!

Oleh: bsulistioadi | Juli 31, 2008

“Menutup” celah pada Citra Landsat SLC-Off

Tulisan ini saya buat karena saya kuatir saya akan segera lupa algoritma sederhana yang baru saja saya tuliskan pada ERDAS Spatial Modeler untuk membantu “menutup” celah pada citra landsat SLC-Off. OK… untuk memudahkan pembaca akan saya jelaskan sedikit lebih rinci dari awal.

Landsat adalah satelit pembawa sensor untuk pengambilan gambar bumi kita yang telah beroperasi sejak 1978 (Landsat 1… kalau tidak salah…, kalau penasaran dengan sejarah landsat silakan buka http://landsat.usgs.gov/ selaku penguasa satelit ini). Saat ini, satelit yang masih beroperasi adalah Landsat 5 dan Landsat 7. Nah sensor pengambil gambar (citra) yang terpasang pada satelit Landsat 7 ini sejak akhir Mei 2003 mengalami kerusakan sehingga gambar yang dihasilkan selalu dihiasi dengan “striping” yang berasal dari sebagian baris sensor yang tidak berfungsi lagi. Oleh USGS, citra-citra yang diambil setelah tanggal ini disebut dengan citra yang bersifat “SLC-Off”. Contoh citra yang diambil dengan kondisi ini adalah sebagai berikut

Citra Mei 2008 (SLC-Off)
Citra Mei 2008 (SLC-Off)

Untuk”mengoreksi” celah yang timbul akibat kerusakan sensor pada satelit landsat 7, kita bisa menggunakan citra pada path/row yang sama yang diambil pada tanggal/tahun yang berbeda. Untuk contoh ini saya gunakan citra yang diambil pada Mei 2003. Secara tata waktu mungkin citra ini “terlalu tua”, namun citra ini saja lah yang mengandung informasi yang dapat digunakan untuk “menambal” garis-garis kosong pada citra Mei 2008 tadi. Perlu diingat bahwa penyedia data citra biasanya memberikan nilai (digital number/DN) = 0 untuk pixel-pixel yang mengalami “striping” alias tidak berisi data. Nah, nilai-nilai 0 inilah yang nantinya akan digantikan oleh nilai pixel yang berasal dari citra “penambal” yang satu lagi.

Untuk citra yang akan digunakan untuk “menambal” ditampilkan sebagai berikut:

Citra Mei 2003
Citra Mei 2003

Perlu diingat juga sebelum melakukan operasi ini, kita harus memastikan posisi geometris kedua citra sudah sama persis. Lakukan koreksi geometrik menggunakan titik ikat yang diukur di lapangan (mis: dengan menggunakan GPS saat survey) pada citra yang pertama, kemudian sesuaikan/koreksi posisi geometrik citra yang kedua berdasarkan hasil koreksi geometrik citra yang pertama sehingga diperoleh posisi geografis yang tepat sama untuk kedua citra. Setelah syarat ini dipenuhi, kita bisa mulai mencoba “menambal” citra yang bergaris ini.

Saya menggunakan ERDAS Imagine v9.1, tapi saya yakin versi yang lain tidak memiliki perbedaan dalam hal bahasa/perintah yang diimplementasikan dalam spatial modeler nya. Gambar berikut memuat algoritma sederhana yang digunakan dalam ERDAS Model Maker untuk melakukan proses ini. Gambar yang dimuat memang hanya menampilkan Function Definition pada model yang dibuat pada ERDAS Model Maker.

Conditional
Spatial Modeler: Conditional

Saat model dieksekusi, kita dapat memasukkan citra yang “bergaris” sebagai input pertama ($n2_PROMPT_USER) sementara citra yang utuh sebagai input yang kedua ($n3_PROMPT_USER). Tentukan nama dan lokasi citra sebagai output, dan hasilnya akan tampak seperti berikut:

Citra Landsat Mei 2008 (Hasil)

Citra Landsat Mei 2008 (Hasil)

Tentunya, pemilihan citra pengganti, tingkat akurasi koreksi geometrik dan kondisi lapangan sangat mempengaruhi ketepatan informasi yang dapat digali dari proses ini. Saya juga TIDAK MEREKOMENDASIKAN penggunaan teknik ini untuk pengolahan citra satelit yang melibatkan secara langsung digital number/DN ataupun nilai spektral asli dari citra satelit. Praktek ini dianjurkan hanya untuk identifikasi tutupan lahan, itupun harus dilihat dengan cermat kondisi di lapangannya melalui survey. Akhir kata, semoga catatan kecil ini berguna bagi pengguna ERDAS Imagine lainnya.

Referensi:
http://landsat.usgs.gov/products_slcoffdataproducts.php
http://gi.leica-geosystems.com/

Oleh: bsulistioadi | Juni 7, 2008

Menginstall ArcGIS 9.2 pada Windows Vista

Ada banyak kesulitan dalam menginstall ArcGIS pada platform Windows Vista. Hal ini bersumber dari License Manager yang tidak kompatibel dengan Windows Vista. Berbeda dengan program ArcGIS 9.2 sendiri yang sebenarnya sudah kompatibel dan secara prinsip dapat digunakan pada Windows Vista. Untungnya, hal ini sekarang telah dapat diatasi dengan memperbarui “License Manager” yang sebelumnya terinstall secara standar dari default installer ArcGIS. Berikut akan dipaparkan langkah-langkah memperbarui fungsi license manager pada platform Windows Vista.

  1. Sebagai langkah pertama, install License Manager ArcGIS 9.2 secara standar sebagaimana biasa dilakukan pada tahap awal instalasi ArcGIS
  2. Setelah reboot, ArcGIS License Manager tidak akan berfungsi. Untuk itu, hilangkan (remove) ArcGIS License Manager Service dengan menggunakan utiliti tertentu (misalnya menggunakan the srvinstw.exe GUI dari Microsoft, sc command-line dari Microsoft, atau WinSIM GUI dari Frameworkx). Ingat bahwa HANYA SERVICEnya saja yang dibuang
  3. Uninstall driver untuk hardware key (dongle) yang terpasang. Dapatkan driver untuk hardware key terbaru dari http://www.safenet-inc.com/support/tech/sentinel.asp , kemudian lepaskan hardware key (dongle) dari tempatnya
  4. Dengan kondisi hardware key terlepas, install kembali driver yang telah didownload dengan memilih untuk menginstall driver usb/parallel saja. Setelah selesai dengan instalasi, hardware key dapat dipasang kembali
  5. Browse ke C:\Program Files\ESRI\License\arcgis9x dan ubah nama 3 file yaitu: lmgrd.exe, lmutils.exe dan lmtools.exe menjadi nama lain atau ubah ekstensinya dengan .bak
  6. Download versi terakhir file-file FlexLM dari http://www.globes.com/support/generic/utilities/fnp_utilities_download.htm
  7. Ubah nama file-file yang baru didownload tersebut menjadi lmgrd.exe, lmutils.exe dan lmtools.exe untuk menggantikan versi yang lama
  8. Buat file kosong dengan ekstensi .log pada direktori C:\Program Files\ESRI\License\arcgis9x (mis. flexlm.log)
  9. Selanjutnya atur License Manager dengan men-dobel klik lmtools.exe (harus sebagai administrator). Masukkan kembali parameter-parameter yang diminta pada tab Config Services sesuai dengan kondisi sebelumnya (masing-masing lmgrd.exe, license.lic/.dat, dan flexlm.log dari direktori C:\Program Files\ESRI\License\arcgis9x)
  10. Beri tanda cek pada pilihan Services and then Start Server at Power Up kemudian klik pada Save Services
  11. Anda sudah selesai dan tinggal me-restart komputer
  12. Bila sudah reboot, atur kembali lisensi ArcGIS anda melalui Desktop Administrator bila ArcGIS belum dapat menemukan License Manager/Servicesnya

Dokumentasi ini sudah berhasil dicobakan pada 2 notebook dengan platform Windows Vista (Toshiba M500 dan Sony Vaio Tipe CR).

Sumber:
ESRI’s FAQ
http://support.esri.com/index.cfm?fa=knowledgebase.techarticles.articleShow&d=34020

Getting license manager to work as a service in Vista 32 and 64 bits (Diego Puga)
http://forums.esri.com/Thread.asp?c=93&f=1148&t=241545&mc=7

Oleh: bsulistioadi | Mei 14, 2008

Daripada “mbajak”, pake software gratis aja…

Ketemu lagi di coret-coretan iseng saya…
Kali ini saya ingin mengupas kebiasaan kita dalam “berkomputer”…
[Berkomputer = menggunakan komputer untuk membantu pekerjaan sehari-hari]
Apakah anda menggunakan OS Microsoft Windows ? Asli, bawaan dari laptop/desktop, atau bajakan ?
Apakah anda menggunakan Microsoft Office ? Asli ? hehehe…. jawabannya mungkin 98% bajakan…
Apakah anda menggunakan ACDSee untuk melihat foto dan Photoshop untuk mengeditnya ? Asli ? hehehe lagi…
Apakah anda menggunakan WinZip untuk memperkecil ukuran file anda ? Asli ? hehehe …

Dan pasti masih banyak lagi hehehe dan hehehe lain untuk hampir semua aplikasi yang terinstall di komputer kita.
Dari banyak pengguna komputer yang saya temui, malah sebagian cukup besar sama sekali tidak sadar apakah komputernya menggunakan software-software bajakan atau tidak… duh !…

Saya cuma ingin mengajak anda mencoba bermigrasi dan menjadi terbiasa menggunakan “padanan” software-software yang biasa kita gunakan pada komputer kita untuk mendukung pekerjaan kita.

1. Sistem Operasi (Operating System/OS)

Kita mulai dari yang paling vital, OS alias operating system. Kalau kita membeli laptop dengan merek yang cukup baik (misalnya IBM/Lenovo, Toshiba, Sony, Dell, HP… sori kl ada merk bagus lain yang gak kesebut) biasanya laptop-laptop tersebut sudah memuuat operating system yang kita butuhkan. Lain hal kalau kita membeli laptop dengan embel-embel NON OS atau Free DOS, nah yang ini biasanya belum berisi operating system. Pada kebanyakan toko komputer di pusat-pusat komputer besar (misalnya Mangga Dua, Glodok di Jakarta, Hi-Tech Mall Surabaya, dll) instalasi sistem operasi (OS) bajakan sudah tidak dilayani. Lain halnya di daerah, dimana sweeping software bajakan masih jarang dilakukan. Penjual komputer masih melayani pemasangan sistem operasi bajakan.
Memang sulit melepaskan diri dari “kenikmatan” selama ini dalam menggunakan sistem operasi MS Windows, yang sudah menemani kita sejak 1996 (kalo gak salah). Walaupun hari-hari belakangan ini, sistem operasi Linux sudah semakin mudah digunakan, bahkan dengan GUI (Graphical User Interface) yang semakin cantik dan menarik, namun kemudahan penggunaan MS Windows tetap sulit kita lepaskan. Perkembangan distro linux dan turunannya bisa dilihat di www.distrowatch.org

2. Office Applications

Selain MS Windows, kita pasti perlu menggunakan aplikasi “kantoran”. Untuk ini, sudah ada solusi yang cukup baik dari Sun Microsystems dengan OpenOffice nya. Selama ini saya sudah mencoba untuk bermigrasi ke aplikasi yang satu ini, dan secara umum aplikasi ini cukup kompatibel dengan pekerjaan kita selama ini dengan MS Office. OpenOffice bisa diperoleh GRATIS lewat situs www.openoffice.org
Sering membuka file PDF ? Kalau dulu selalu menggunakan Adobe Reader, mungkin anda sekarang bisa mencoba kesaktian aplikasi gratis nan ringan dari Foxit. FoxitReader 2.3 dinyatakan sebagai software pembaca file PDF terkecil, ter-ringan dan tercepat dengan tetap mempertahankan “render” dari gambar yang ada pada file yang dibuka.

3. Graphics/Photo Management and Editor

Komputer pasti kita gunakan juga untuk melihat dan memperbaiki foto, gambar ataupun piktorial lain. ACDSee adalah aplikasi ringan (tapi sekarang sudah semakin berat di versi 8.0) yang biasa kita gunakan untuk melihat gambar koleksi kita. Sayangnya, aplikasi ini termasuk software propetiary yang harus dibayar😦. Tapi jangan kuatir, FastStone Image Viewer adalah aplikasi GRATIS yang punya fungsi yang sama dengan ACD See. Software ini bisa diperoleh lewat web Fast Stone. Untuk membuat, mengedit dan bermain-main lebih jauh dengan gambar berformat vektor, bisa digunakan Inkspace yang pasti gratis. Sementara untuk mengedit foto dan gambar lain berformat raster, bisa digunakan GIMP yang makin lama makin familiar untuk digunakan.

4. Network & Internet Messenger

Perlu chatting secara internal dengan kerabat dalam satu jaringan ? Bila selama ini sering menggunakan e-Pop, LanTalk atau software lain yang sudah “terbajak”, sekarang kita bisa menggunakan A-Chat yang bisa didownload dan digunakan dengan sebebas-bebasnya, selaras dengan prinsip software tersebut yang “free dan open source”. Untuk chatting dengan jaringan internet, kalau selama ini kita menggunakan Yahoo Messenger yang membutuhkan memori sampai 46 MB saat aktif, bisa memilih penyampai pesan alternatif dengan konsumsi memori lebih kecil (sekitar 16 MB saja saat aktif) yaitu Pidgin.

5. Compression Software

Untuk memperkecil ukuran file, kalau kita sering menggunakan WinZip. Mungkin kita tidak sadar bahwa copy software yang kita gunakan adalah bajakan. Solusinya, bisa menggunakan IZArc yang 100% gratis.

6. Anti Virus

Melindungi komputer kita dari serangan virus adalah hal yang paling penting di saat ini. McAfee, Kaspersky, Norton/Symantec adalah beberapa antivirus yang kita sering gunakan, tapi kesemuanya adalah propetiary software. Saya merekomendasikan AVG Free 8.0 untuk penggunaan personal, mengingat kemampuannya dalam mendeteksi virus sangat bisa diandalkan, juga auto updatenya yang sangat menyenangkan. Kapan pun kita terkoneksi dengan internet, antivirus ini akan secara otomatis mengupdate database pengenal virusnya. Untuk virus-virus lokal dari negara kita, silakan menggunakan PCMedia Antivirus yang bisa diperoleh sebagai bonus rutin majalah PC Media.

Masih banyak aplikasi lain sebagai pengganti aplikasi yang sering kita gunakan sehari-hari, seperti email yang telah banyak dikembangkan seperti Mozilla Thunderbird, KMail, dll. Silakan browsing lebih lengkap di portal aplikasi gratis di http://www.sourceforge.net/

SELAMAT BERHENTI MEMBAJAK SOFTWARE !

Oleh: bsulistioadi | April 21, 2008

Perokok LAKNAT !!!

Yah… saya terpaksa memberi judul se-ekstrim ini untuk pelaku kegiatan yang sangat saya benci ini. Ini catatan kecil sewaktu melakukan perjalanan cukup panjang lewat darat ke Tanjung Redeb, Berau. Mungkin sebagian orang akan bilang: “Kalo g mau kena asap rokok, kenapa g naik pesawat aja ??!”. Yang jelas-jelas akan terjawab “TIDAK MAMPU”, dengan kondisi keuangan yang tidak sedemikian leluasa, untuk membeli tiket PP seharga total Rp 3.000.000,- (nol nya ada enam lho !!!) untuk 2 orang. Itu juga karena ulah pemain pesawat (sebutan saya untuk airlines) tunggal rute Samarinda-Berau, yang hingga kini belum juga menurunkan harga tiketnya dari kisaran Rp 600.000,- hingga Rp 700.000,- untuk rute yang jaraknya hanya separuh dari rute Balikpapan – Tarakan yang dihargai hanya Rp 300 ribuan.

Singkat cerita, saya saat itu berada dalam bis yang melaju menuju Sangatta, Ibukota Kab. Kutai Timur bersama istri di samping saya yang tertidur-terbangun (kondisi dimana kadang dia tidur dan kadang dia bangun). Waktu saat itu sekitar pukul 19.30 dan sebentar lagi bis akan memasuki Sangatta dimana biasa beristirahat. Saat itu salah seorang penumpang yang duduk dekat saya (hanya berjarak 2 penumpang lain)
mulai membakar rokoknya dan dengan tenang menghisap dan mengepulkan asapnya yang penuh racun dan menyesakkan dada saya (dan pasti juga penumpang lainnya).

Semenit… dua menit… saya masih bisa tahan… tapi memasuki menit ketiga kepala saya mulai pusing.
Saya bukan pemabuk perjalanan yang dapat dengan mudah terganggu dengan liukan jalan trans kalimantan,
tapi saya mudah sekali pusing-pusing dan mual kalau sudah bertemu ASAP ROKOK.
Dilema mulai menghantui saya… mau menegur… kuatir si perokok tersinggung… mau diam dan “menikmati” asap rokok ini… kok rasanya badan gak kuat…
Saya lihat lagi baik-baik postur tubuh si perokok kurang ajar ini… ah, ternyata gak besar2 dan tegap amat… Itungan saya… kalaupun harus berakhir dengan jual beli pukulan… mestinya masih imbang lah… Percuma aja bobot sudah mencapai 76 kg kalo nggak bisa menghunjamkan pukulan telak. Ah.. ternyata saya sudah berpikir terlalu jauh sementara pusing dan mual semakin tak tertahankan. Sampai akhirnya…

“Pak, tolong pak rokoknya dimatikan. Saya nggak tahan ini sudah mau muntah…”
Akhirnya keluar juga permintaan saya dengan sopan. Mau tahu apa reaksi manusia tolol yang saya tegur?
“Iya iya… ini sudah mau habis koq…”, dengan raut muka yang kesal dan suara yang mengeras.

Ada satu obsesi saya, yaitu memuntahkan isi perut saya yang terhambur akibat asap rokok yang dikeluarkan
oleh para perokok, TEPAT DI MUKA SANG PEROKOK yang sudah menghadiahi saya penderitaan ini.
Untuk mengindikasikan ini, saya segera berpura-pura mau muntah dan langsung saya arahkan ke koridor bis. “Hueeeeekkkkkk !!!!” cukup keras… yang pasti orang-orang hingga jarak 4 kursi ke belakang pasti dengar. Saya terus menghadapkan muka saya ke koridor (sekaligus ke muka si tolol perokok) dan memijat2 tengkuk, sekali lagi saya keluarkan suara wasiat saya “HUEEEKKKKK !!!” kali ini agak lebih pelan tapi saya mulai berpura-pura meludah ke arah koridor bis sekaligus ke kaki si tolol perokok.
Reaksi selanjutnya baru membuat saya lega. Si tolol perokok akhirnya bergegas membuang rokoknya
yang masih tersisa separuh kurang sedikit.

Menurut saya, meskipun tidak ada PERDA yang mengatur larangan merokok di tempat umum
(termasuk di angkutan umum seperti bis yang saya naiki) yang dibuat oleh pemerintah setempat,
sebagai manusia saya BERHAK MENDAPATKAN UDARA YANG TIDAK TERCEMAR OLEH ASAP ROKOK.
Tentu saja umat manusia lain boleh menikmati rokok mereka, kapan saja, dimana saja…
asal…. asapnya tidak mengganggu pernapasan orang lain. That’s it !!!

Solusinya ?
Silakan merokok tapi asapnya jangan dikeluarkan !
Telan saja lagi semua asapnya supaya tidak mengganggu orang lain.
Sori kalau itu terlalu ekstrim. Tapi selalu ada ruang dimana anda bisa merokok dengan bebas.
Kalau di mal atau pusat perbelanjaan, biasanya ada tempat khusus bagi perokok.
Kalau di cafe atau rumah makan yang baik, biasanya ada ruang khusus bagi perokok.
Kalau di ruang ber-AC, ya jangan tolol dong merokok di ruang seperti itu.
Karena udaranya pasti berputar-putar disitu aja dan sangat menyiksa orang lain.

Saya menganalogikan merokok sama seperti kumur-kumur.
Jadi untuk anda yang perokok, bayangkan kalau saya setiap saat kumur-kumur
Kemudian saya muntahkan air bekas kumur saya dan mengenai badan anda.
Gimana ??? Sama-sama barang bekas dan mengandung penyakit kan ?

Jadi tolong, dengan sangat saya mohon, berhentilah merokok di tempat umum, karena anda hanya akan menambah penderitaan orang lain

Older Posts »

Kategori